Menunggu 1, 4 tahun itu bagi sebagian orang bukan waktu yang lama, bagi saya sendiri menunggu itu ternyata punya makna. Pertama menikah semua orang disekitar kita akan sibuk bertanya,

"Sudah isi belum?"
,
"Kapan nih nyusul?"
(versi ibu baru punya anak).

Bisa dibilang pertanyaan seperti itu sebetulnya hanya pertanyaan basa-basi kalau baru ketemu, dan saya masih bisa nyengir manis sambil menjawab,
"Sudah, tadi diisi ketupat sayur" (jawaban kepada 100 ibu-ibu yang bertanya pada saya saat Lebaran *lebay heuheu).

Waktu pun berlalu, memasuki usia pernikahan 6 bulan sudah ada pada tahap bertanya pada diri sendiri hmm, kok belum hamil juga ya?, yang lain baru juga nikah langsung jadi.
Pertanyaan orang sudah berubah kali ini, "Belum isi yah? udah coba pengobatan alternatif, atau pijet, atau bla bla bla?", seolah-olah ada yang salah sama tubuh saya.

Mungkin sudah terdengar agak terganggu, hingga saya pun gregetan untuk membuat perjanjian bertemu dengan dokter kandungan alias obgyn.
Saat itu dokter hanya memeriksa rahim, dimana semua tampak sehat tidak ada kista, dan dia tidak menyarankan untuk kami berdua melakukan test macam-macam, mengingat masih dibawah 1 tahun usia pernikahannya.

Hari-hari dilalui seperti biasa, sembari menjawab pertanyaan-pertanyaan "Kapan Isi?" dengan setengah hati.
Ternyata saya dan suami diberi banyak kesempatan untuk hidup berdua sementara waktu, disitu kita selalu isi dengan berlibur hampir setiap bulan dan kami benar-benar memanfaatkan momen itu. Bisa dibilang waktu yang saya habiskan benar-benar menyenangkan. Mengingat tanggung jawabnya baru untuk diri sendiri dan suami.

---------------------

Memasuki 10 bulan, tanpa disangka, ternyata saya hamil. Namun kehamilan itu saya ketahui setelah keguguran. Saat usia pernikahan seumur ini, saya ada pada tahap tidak mau ge-er kalau pun telat haid, makanya begitu telat, cuek aja ga pake test pack, sebab sebelumnya saya selalu meratapi benda itu yang garisnya cuma keluar satu.


Keguguran saat itu dipicu karena saya baru saja dari Palembang dan Bandung 4 hari berturut-turut, dan otomatis fisik saya pun lelah. Kejadiannya malam hari, saya ga bisa tidur karena perut rasanya kram, dan keluarlah darah. Saya hanya mengira itu sekedar haid biasa, sampai akhirnya 2 hari kemudian darah berhenti total (sepanjang pengalaman saya haid, darah itu baru berhenti setelah 7 hari, jadi shock berat baru 2 hari udah bersih). PS: Penting diperhatikan, darah keguguran itu warnanya hitam, sangat kental hampir seperti jelly padat juga tidak berbau.


Ga pake efek apa-apa, badan rasanya baik-baik saja hingga 2 hari kemudian, dari punggung, dan pinggang ke bawah, sakit semua. Kayak abis ujian lari, pegelnya parah. Terus saya juga ga bisa bangun dari tempat tidur, bisa dibilang ga punya tenaga untuk itu. Akhirnya dengan cueknya saya cuma istirahat 3 hari dan baru memutuskan ke obgyn.


Obgynnya cuma bisa bilang, itu kantung rahimnya masih ada, tapi kemarin sudah keguguran. Kalau muka saya bisa di shoot, mungkin akan tampak melongo seperti habis kecolongan, cuma malingnya uda keburu kabur, shock berat. Dokter tidak menyuruh saya langsung kuret karena kegugurannya abortus spontan, jadi cuma dikasih obat. Ya nangis akhirnya pas perjalanan pulang. Maafkan ya nak, bunda ga tahu kalau ternyata hamil, padahal gejala mualnya udah muncul.

---------------------

Usai keguguran, saya dan suami akhirnya mencoba program kehamilan dengan mengontrol semuanya. Kita diberi vitamin E untuk kesuburan dan saya juga mengkonsumsi folat. Hamil itu ga akan terjadi kalau fisik saya lelah terus. Dimana setiap hari saya harus menyetir jarak jauh dengan kondisi kemacetan Jakarta yang jelas membuat stress. Bahkan saat itu sampai diniatkan mengganti kendaraan menjadi matic, demi program hamil dan mengurangi lelah. Proses panjang ini ternyata memang tidak membuahkan hasil karena saya tetap pada kondisi sangat lelah setiap harinya.


Sampai pada titik jenuh, saya pun akhirnya mengambil keputusan ternekat sepanjang hidup saya. Resign. Itu awalnya butuh mikir panjang, dimana sebelumnya karena pengen program hamil di 2011, saya mau unpaid leave 1 bulan, tapi malah berbuntut resign. Resign itu tidak ada dalam kamus saya sebenernya, tapi kejadian juga heuheu, dan tidak pernah akan menyesali itu.

---------------------

Resign pun sudah terlaksana, lalu apa program selanjutnya?

1. Ke Obgyn, minta dijadwalkan kapan waktu berhubungannya sesuai tanggal.

2. Istirahat total di rumah, dengan berleha-leha saja.

3. Meminum
Prenagen Esensis 2 kali sehari (tapi susu tidak menjamin jadi hamil yah, cuma karena doyan aja sayanya).
4. Mengkonsumsi vitamin dan folat.

5. Hanya melakukan hubungan sesuai jadwal yang dibuat dokter.

6. Makan masakan rumahan selalu.


Alhamdulillah, ternyata berhasil dalam waktu kurang dari 2 minggu sesudah resign, mungkin pas saya mau resign juga dikantor udah ga ngapa-ngapain dan saya pake acara cuti berlibur lama, jadi pikiran dan badan sama-sama santai.
Sekarang waktunya menjalani kehamilan dengan berusaha dijaga sebaik mungkin.

Bagi para calon ibu yang sedang menanti, tetap semangat selalu ya. Anggap pertanyaan-pertanyaan "Kapan hamil", dengan doa dan yakin aja, kalau rejeki itu sudah ada yang ngatur.
Makna kehamilan kali ini : Kami sadar, kenapa sekarang hamilnya, melihat kondisi kami berdua, memang sekarang waktu yang lebih tepat dibandingkan sebelumnya. Dan Tuhan sangat baik memilihkan jalannya disaat kami sudah lebih bersiap diri.

Ciaoo...
and Happy International Women's Day
Pssttt, post berikutnya saya mau berbagi Freebies :)