Kata ibu dokter confirm 99% baby-nya perempuan. Heum.. ternyata diluar dugaan saya yang selama ini mikir suka berasa kucel dan males berdandan, dimana katanya itu hamil bayi laki-laki. So it's a baby girl, Alhamdulillah.

Sempat ada pembahasan menarik soal memanggil orang tua dan kakek nenek. Saya dan suami memilih 'Ayah' dan 'Bunda' karena kalau saya dari jaman kecil aja udah mikir bila jadi orang tua maunya dipanggil Bunda, hehe, sementara panggilan Ayah mengikuti saja biar cocok. Lalu apa panggilan Kakek Nenek-nya? Orang tua saya maunya 'Abah' dan 'Ambu' yang mana artinya bapak dan ibu dalam bahasa Sunda, sementara mertua berdarah Sumatra sudah biasa dipanggil 'Datuk' dan 'Nenek'.

Sekarang ini kata ibu saya (panggilan sehari-harinya mama, tapi lebih enak nulis ibu hehe), ada trend dimana mereka tidak mau lagi dipanggil Kakek atau Nenek karena ga keren, jadi hadirlah banyak sebutan baru. Misalnya tante saya yang dipanggil 'Ninda' artinya nin (nenek dalam bahasa Sunda) muda, dan 'Kiteng' atau aki (kakek dalam bahasa Sunda) ganteng. Ada juga yang maunya dipanggil Bunda atau Mama juga, meskipun berstatus sebagai nenek. Atau 'Anti' alias auntie untuk panggilan bibi, dan saya dipanggil 'Mimi' (tidak tahu juga asalnya kenapa mimi) oleh keponakan.

Sebutan yang variatif ini ternyata menarik, Papa Mama adalah hal yang sebenarnya berupa bahasa saduran tapi menjadi hal biasa sekarang, dan digunakan oleh siapa saja termasuk saya, Bapak Ibu terdengar lebih membumi, Abi Ummi panggilan dengan nuansa Islami, atau mungkin Papi Mami dan Daddy Mommy yang sangat kebarat-baratan. Semua adalah satu panggilan yang sama untuk orang tua.

Jadi memilih panggilan itu sebenarnya secara tidak langsung ingin mengajarkan kepada anak nilai-nilai budaya yang ada di dalam keluarga kita, makanya saya ingin menggunakan bahasa Indonesia dicampur bahasa daerah supaya anak tidak lupa dengan lingkungan dimana dia dibesarkan. Lalu bagaimana dengan nama anak? Akankah akar budaya mempengaruhi namanya?

Kali ini saya lebih memilih untuk menggunakan nama yang Islami dibanding nama dari budaya. Ternyata ada beberapa hal yang harus diperhatikan tentang nama bayi dalam Islam, sebagai mana yang dikutip dari tipsbayi.com :
  • Sebaik-baik nama adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahmaan (Al-Hadits).
  • Nama yang paling sesuai adalah Harits dan Hammaam (Al-Hadits).
  • Nama yang paling buruk adalah Harb dan Murrah (Al-Hadits).
  • Dilarang menggunakan nama Barrah (Al-Hadits).
  • Dilarang menggunakan nama sesembahan selain Allah, seperti ‘Abdul Ka’bah, dan sebagainya.
  • Dilarang menggunakan Asmaa-ul Husnaa jika tidak memakai ‘Abdu di depannya.
  • Sebaiknya tidak menggunakan nama-nama malaikat.
  • Dianjurkan untuk tidak menggunakan nama-nama yang terlalu panjang. Kebanyakan nama-nama bayi Islam di zaman Nabi SAW adalah singkat.
  • Karena nama bayi Islam adalah dalam bahasa Arab, dianjurkan untuk memilih nama yang mengandung huruf-huruf Arab yang mudah diucapkan oleh lisan “Indonesia” secara benar, sehingga tidak merubah arti nama tersebut.
Sebetulnya sangat tidak mudah memilih nama yang sekiranya menjadi doa yang baik. Saya sebenarnya sudah punya satu nama andalan (dari sebelum hamil mau nama itu) tapi masih bingung perihal nama belakangnya, dan mungkin nanti saja memasuki trimester 3 baru mikir. Sekedar share info menarik dari babycenter.com soal pemberian nama, silahkan klik artikelnya [disini] 8 perangkap yang perlu diperhatikan dalam memberi nama bayi :
  1. The nickname trap.
  2. Embarrassing initials.
  3. A lifetime of corrections.
  4. Overpopularity.
  5. Problematic name pairings.
  6. Humiliating e-mail handles.
  7. Names not to live up to.
  8. So-so meanings.

In the end, pemilihan nama itu sedikit tricky, harapannya ingin yang baik tapi selipan tidak sengaja yang memberi kesan salah masih mungkin terjadi. Sulitkah bagi para orang tua saat memilih nama
anak mereka? Saya sih bilangnya susah ya.