Thursday, November 24, 2011

Rambut Bayi Tipis
11/24/2011

Rambut Bayi Tipis

Nah berhubung neneknya Lola bersikeras ingin mencoba menggunduli rambut Lola, tapi saya tidak mau karena takut Lola besar nanti semakin kribo membahana (seperti saya), jadilah saya cari info sana-sini tentang perlu atau tidaknya menggunduli rambut bayi.

Sumber :
1. Majalah Ayahbunda
Tanya:
Rambutnya digunduli agar nantinya tumbuh lebih banyak, tetapi kok masih saja tipis dan jarang, ya?

Jawab:
Menggunduli rambut bayi memang tidak serta merta membuat rambutnya tumbuh lebih lebat. Itu karena, tebal tipisnya rambut dipengaruhi oleh faktor genetika, faktor gizi, lingkungan dan hormonal. Jika ingin rambut anak tebal dan berkilau, rawatlah rambut anak dengan memerhatikan keempat faktor tersebut.

2. Tabloid Nova
Kok, Rambut si Kecil Tipis?

Tak perlu khawatir jika rambut anak tipis. Selama dia sehat, tak ada masalah. Apalagi pada bayi, yang tumbuh adalah rambut sementarabukan rambut permanen. Banyak mitos yang masih dipercaya tentang perawatan rambut bayi dan anak. Misalnya, rambut digunduli agar nantinya tumbuh lebat. "Hal itu tidak benar. Memang, sehabis dicukur, rambut yang tumbuh akan terlihat tebal", ujar dr. Titi Lestari Sugito, Sp.KK dari Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI-RSCM.

Menggunduli rambut bayi, kata Titi, sebetulnya hanya tradisi. Dari segi medis, tidak ada hubungannya mencukur rambut dengan rambut tebal. Rambut bayi sangat tergantung faktor genetik. "Kalau memang dari sononya jenis rambutnya tipis, mau dicukur berapa kali pun, keluarnya akan tetap tipis juga," kata Titi. Selain tebal-tipis rambut, warna rambut pun sudah ditentukan secara genetik.

Folikel (selubung akar rambut) terbentuk sejak anak berada dalam kandungan dan terus berkembang hingga lahir. Rambut bayi baru lahir adalah rambut sementara atau velus. "Rambut velus biasanya sangat halus dan lebih tipis dari rambut tetap", terang Titi. Rambut sementara ini akan rontok dengan sendirinya sebelum anak berusia setahun, kemudian berganti dengan rambut tetap (permanen).

Pada minggu pertama kelahiran, kadang bayi mengalami kebotakan. "Enggak apa-apa. Ini biasa terjadi di daerah yang biasa tertekan. Misalnya, karena terlalu lama tidur telentang atau karena gesekan dengan bantal", Tekanan dan gesekan akan memudahkan velus rontok, sehingga timbul kebotakan. Setelah setahun, velus biasanya rontok seluruhnya dan berganti rambut permanen.

Jadi, rambut pada bayi dan anak adalah akumulasi dari faktor genetik ditambah faktor-faktor luar yang mempengaruhi. Faktor genetik tak sebatas ayah-ibu tapi juga bisa dari kakek-nenek.

FAKTOR LUAR
Selain faktor genetik, faktor gizi juga berperan. Anak kurang gizi, misalnya, tekstur rambutnya pasti akan terpengaruh. "Warna rambut jadi merah, lebih kering, lebih mudah patah, tipis, mudah rontok", jelas Titi.

Selain itu, dipengaruhi pula oleh hormon. Salah satunya hormon androgen. "Sering ada bayi yang rambutnya sangat lebat saat lahir. Bisa saja itu karena pengaruh hormon androgen ibunya. Soalnya, dia belum bisa memproduksi hormon androgen". Setelah lahir, lanjut Titi, lama-lama efek androgen yang terbawa dari ibunya hilang. "Rambut si kecil pun rontok, berganti dengan rambut aslinya yang mungkin lebih tipis".

Faktor lingkungan juga sangat berperan. Banyak kena sinar matahari atau polusi, juga akan mempengaruhi tekstur rambut. Begitu pula penyakit, semisal seboroik (ketombe), yang sering terjadi pada bayi atau anak. "Ini juga ikut mempengaruhi".

Setelah fase rambut tetap, faktor-faktor tadi bisa mempengaruhi tekstur rambut anak. "Pada rambut, sifat aslinya ditentukan oleh gen, tetapi dipengaruhi faktor luar pula". Jangan lupa, perawatan juga ikut mempengaruhi tekstur rambut.

Meski rambut anak sudah permanen, menurut Titi, orangtua tak usah bingung bila menjumpai rambut rontok. "Itu lumrah. Siklus kehidupan rambut memang begitu", ujarnya. Kerontokan masih dianggap normal asalkan tak lebih dari 100 helai per harinya, sementara kecepatan tumbuh rambut sekitar 0,3 mm per hari.

Yang jelas, selama anak sehat, pertumbuhan rambut akan sesuai dengan faktor genetik. "Cuma, faktor-faktor lain di luar faktor genetik juga bisa mempengaruhi tekstur rambut".

3. SangBuahHati.com - Mitos Sekitar Cukur Rambut Bayi

Salah satu praktik yang biasa dilakukan masyarakat terkait dengan kelahiran bayi ialah memotong rambut mereka. Memotong rambut bahkan menjadi semacam ritual. Mereka melakukannya dengan berbagai alasan, seperti agar bayi bersih dan sehat, membuang sial, supaya rambut bayi nantinya tumbuh subur. Bagaimana kebiasaan mencukur rambut bayi itu dari aspek medis? Untuk mengetahui hal itu, SBH mewawancarai Dr.Yuni Kurnia, SpA dari RS Meilia Cibubur, Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Berikut petikannya:

Terkait dengan kebiasaan mencukur rambut bayi, di kalangan masyarakat kita ada anggapan bahwa rambut bayi sebaiknya digunduli agar kelak tumbuh lebat. Benarkah?
Hal itu tidak benar. Itu masih menjadi mitos yang dipercaya sebagian masyarakat.

Maksudnya?
Pertumbuhan rambut pada bayi dan anak dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor-faktor luar. Faktor genetik tak hanya sebatas ayah-ibu tetapi juga bisa dari kakek-nenek. Dari sisi medis, tidak ada hubungannya mencukur rambut dengan rambut tebal. Kalau memang dari genetiknya jenis rambutnya tipis, mau dicukur berapa kali pun, keluarnya akan tetap tipis juga. Selain tebal-tipis rambut, warna rambut pun sudah ditentukan secara genetik.

Bisa Anda jelaskan lebih rinci dari aspek ilmiah atau medis?
Folikel (selubung akar rambut) terbentuk sejak anak berada dalam kandungan dan terus berkembang hingga lahir. Rambut bayi yang baru lahir adalah rambut sementara yang disebut velus. Rambut velus biasanya sangat halus dan lebih tipis daripada rambut tetap. Rambut sementara ini akan rontok dengan sendirinya sebelum anak berusia setahun, kemudian digantikan dengan rambut tetap (permanen).

Anda mengatakan selain faktor genetik, ada faktor eksternal yang mempengaruhi kelebatan dan kesehatan rambut anak. Apa itu?
Faktor dari luar yang mempengaruhi antara lain faktor gizi, hormon, penyakit, perawatan, dan habit atau kebiasaan. Anak kurang gizi, misalnya, tekstur rambutnya pasti akan terpengaruh. Warna rambut menjadi merah, lebih kering, lebih mudah patah, tipis, dan mudah rontok. Salah satu hormon yg mempengaruhi rambut adalah hormon androgen. Sering ada bayi yang rambutnya sangat lebat saat lahir. Bisa saja itu karena pengaruh hormon androgen ibunya. Pada usia ini bayi kan belum bisa memproduksi hormon androgen. Seiring bertambahnya usia, lama-lama efek androgen yang terbawa dari ibunya hilang. Sehingga rambut pun rontok, berganti dengan rambut aslinya yang mungkin lebih tipis. Faktor lingkungan juga sangat berperan. Paparan sinar matahari atau polusi, juga akan mempengaruhi tekstur rambut. Begitu pula penyakit, semisal seboroik (ketombe), yang sering terjadi pada bayi atau anak. Perawatan juga ikut mempengaruhi tekstur rambut.

Terkait dengan perawatan rambut bayi, shampo dengan kandungan seperti apa yang sebaiknya digunakan?
Dalam memilih shampo, yang terpenting bukanlah soal harga mahal atau murah, melainkan cocok-tidak untuk bayi Anda. Bila dalam riwayat keluarga ada yang alergi, kemungkinan bayi terkena alergi lebih mudah, karena alergi adalah faktor yang diturunkan. Saat ini telah tersedia shampo hypo alergenic, biasanya sudah relatif aman sehingga tak menimbulkan alergi. Namun bila di dalam keluarga ada faktor keturunan alergi, pada bayi/ anak tertentu bisa saja tetap timbul reaksi (meski pakai shampo hypo alergenic). Untuk mengetahuinya, satu-satunya jalan adalah mencoba memakaikannya pada si kecil. Bila ada reaksi setelah pemakaian, sebaiknya langsung dihentikan. Sebaliknya ada juga bayi yang memakai produk apa pun tak jadi masalah. Jadi, pemilihan jenis shampo dan kapan mengganti dengan produk shampo lain biasa disesuaikan dengan masing-masing bayi.

4. DedePurnama.com - Kenapa Bayi Rambutnya Tipis ?

Bayi baru lahir memang penuh dengan kejutan, termasuk rambutnya. Anda tidak perlu resah jika bayi Anda berambut tipis dan jangan terlalu ge-er jika rambut si kecil tebal karena rambut halus dan tipis bayi akan rontok di usia 3-4 bulan.

Lebat tipisnya rambut bayi sebenarnya merupakan kombinasi dari faktor genetik, etnis, dan hormon. Rambut bayi sendiri sudah mulai berkembang sejak ia berusia 5 bulan di dalam kandungan. Rambut yang halus dan tipis ini hanya bertahan sampai 4 bulan setelah ia dilahirkan dan selanjutnya akan rontok, digantikan rambut baru yang mengikuti pola rambut orangtuanya.

"Rontoknya rambut bayi bisa dramatis, langsung rontok banyak dan botak, atau bisa juga tidak kentara, terutama jika rambut baru tumbuh secara bertahap", kata Dan Brennan, dokter anak dari Santa Barbara.

Proses tumbuhnya rambut baru ini biasanya dimulai ketika bayi berusia 6 bulan dan ada yang terus berlangsung sampai bayi Anda balita. Rambut baru ini sering kali memiliki tekstur atau warna yang sama sekali berbeda dengan rambutnya ketika lahir.

Sebagian bayi juga terlihat botak di bagian belakang kepala. Hal ini terutama disebabkan bayi lebih banyak dalam posisi tidur. "Gesekan antara kepala dan bantal bisa menyebabkan titik-titik botak. Namun ini hanya sementara dan menghilang ketika ia sudah mulai bisa miring atau tengkurap," kata Brennan.

Bayi berusia kurang dari 6 bulan memproduksi minyak di bagian kepala lebih sedikit sehingga Anda tidak perlu sering-sering mencuci rambutnya. Meski demikian, cucilah rambutnya dua kali seminggu dengan lembut, terutama jika bayi sering berkeringat.


Nah semoga informasi ini cukup untuk para ibu yang masih ragu apa benar kalau digunduli bisa lebat, jawabannya tidak. Karena lebat atau tidaknya tergantung gen ibu dan bapa.

2 comments :

  1. Haloo mau tanya dong mba fifi akhirnya baby nya dibotakin apa engga ya?

    ReplyDelete
  2. nggak mbak anak saya tetap di pertahankan rambut lahir nya :D

    ReplyDelete