Sejujurnya, kalau ditanya mau punya anak udah sampai mana persiapan keuangannya, well dengan santai saya akan jawab, "Biasa aja tuh". Mungkin saya bukan termasuk yang seserius itu soal menata keuangan keluarga, mostly dibawa santai selama pengeluaran tidak lebih dari pendapatan (soalnya banyak ibu-ibu yang ribet bahas soal keuangan calon anak, dll). Cuma mau sekedar memberi sedikit tips bagi mom-to-be yang memutuskan untuk resign dan akhirnya memilih menjadi ibu rumah tangga.

Pertama kali memilih resign berarti kita harus tetep menghasilkan meskipun mungkin tidak tiap bulan, lalu kita bisa apa?

1.
Dukungan keluarga.
Resign itu berat banget loh, dari yang terbiasa sibuk dan punya uang sendiri, tiba-tiba harus di cut dengan kegiatan seadanya, plus tentunya ga punya uang sendiri yang jumlahnya lebih banyak dari sebelum resign.
Sebelum resign, konsultasikan dulu ke suami kalau kita ga bisa bantu nambahin kas keluarga (sementara dapur harus tetep ngepul dengan pendapatan dari suami saja). Jangan lupa bikin plan bersama, jadi ibu RT pun harus produktif walau ga punya gaji, dan perputaran uang tidak boleh berubah.

PS: Siap-siap dengan pertanyaan kurang menyenangkan dari keluarga ketika kita resign, dan dianggap ga bisa membantu suami serta menyia-nyiakan ijazah kita :p (keluarga modern biasanya berfikir kalau wanita berkarier lebih baik).

2.
Cari peluang.
Punya hobi dong, nah coba deh dipikir-pikir lagi, itu hobi kalau jadi duit apa memungkinkan? Mostly kebanyakan pada suka masak atau mungkin jago mempengaruhi orang lewat ngobrol, ya apapun itu selama kita tahu apa passion diri sendiri, sudah pasti kok bisa dijadikan lahan uang.

3.
Cari temen/partner.
Oke jadi si peluang ini mau diapain? Ya di bisnisin tentunya. Menurut saya bekerja sendiri itu terlalu berat, sebaiknya cari partner kerjasama, jadi bisa saling back-up dan saling membantu menutupi kekurangan masing-masing.
Selain itu bisa berbagi tugas, jadi ga overlapping sama job-desc sendiri. Penting diingat, cari partner yang juga bisa diajak untuk mengeluarkan modal bisnis bersama dan punya satu selera.


4.
Blogging/microblogging.
Percayalah, social media itu punya peranan penting dalam usaha yang kita jalankan. Secepat apa dan seefektif apa bisnis nantinya, bisa lebih ditakar melalu social media. Blogging adalah cara termudah, karena sarana blogging itu gratis dan tinggal kita isi aja dengan konten yang hendak kita jual. Mau yang lebih simpel lagi bisa melalui microblogging seperti Twitter.
Bagi saya, bisnis diawali dengan modal nol, semua dimulai ketika saya memutuskan untuk membuat blog, sisanya rencana bisnis bisa berjalan mengikuti. Nah kalau bisnis kita nanti udah mulai maju, barulah membuat website :)


5.
Strategi berjualan.
Setiap produk yang dijual baik jasa maupun benda, semua harus punya strategi pemasaran. Kita ga bisa main lempar begitu saja kepada publik sebelum punya prinsip dan sistem berjualan. Kalau kurang mengerti, sebaiknya ditanyakan kepada teman kita yang memang berwirausaha. Semakin besar bisnis kita nantinya, semakin ribet urusannya.
Jadi dari awal sebaiknya sudah punya perencanaan mulai dari promosi, produksi, pemasaran, hingga tahap penghitungan prosentase keuntungan dengan modal. Jualan ga bisa atas asas asal dapet duit. Bahkan termasuk modal, ga bisa kepengen langsung balik modal dari pertama kali jualan, biasanya ada perhitungan berapa modal maksimal untuk tahun pertama. Baru deh dipikirin soal balik modal.


6.
Bangun network.
Saya adalah orang yang sangat malas berkenalan dan berbincang dengan orang baru, tapi itu dulu. Sekarang suka nyesel kenapa suka malu-malu kalau ngobrol sama orang lain. Membangun network paling simpel adalah dengan berteman dengan orang baru, siapa pun itu.
Pelajaran paling berharga bagi saya, ketika kita hadir atau diundang dalam sebuah acara, jangan takut atau segan untuk membicarakan soal bisnis kita, mau dibilang narcis atau sok pede, ya cuek aja, yang penting info yang kita sampaikan setidaknya menempel sedikit di lawan bicara kita. Sisanya, kalau ternyata tertarik kan bisa berlanjut, kalau ga tertarik anggaplah sebagai brand awareness.
Tips: sebut nama usaha Anda berkali-kali, hehe.


7.
Paperwork.
Bisnis ga pernah tau bakalan jadi besar atau malah sebaliknya, tapi penting untuk kita ketahui, bahwa berbisnis butuh pengakuan. Sebaiknya dari awal bila modal yang kita keluarkan cukup besar, buatlah janji dengan notaris. Siapkan nama CV atau PT dan uruslah semuanya. Apalagi bila konsep bisnis kita antara pemodal dan pekerja tidak sama. Proses ini sebetulnya cukup repot, tapi selama ada kemauan untuk menjadi besar kenapa harus ragu.

8.
Tempat atau lokasi bisnis.
Banyak pertimbangannya, dimana selain lokasi strategis, biaya sewa atau konsinyasi sering menjadi hambatan. Bisnis yang dimulai dari skala kecil, lalu harus mencoba peruntungan dengan skala besar itu seperti meloncati jurang tanpa tahu kita akan mendarat dimana. Kalau mau test drive dengan nekat ya bisa saja, tapi kan modal menuju skala besar saja sudah banyak apalagi pake test-testan segala. Saran saya, banyak bertanya pada mereka yang juga berjualan di tempat yang akan kita tempati.
PS: Mungkin persoalan ini lain halnya bila kita berbisnis online, disini saya hanya menyampaikan bilamana kita mau memperkuat brand kita dengan punya toko sendiri.


9.
Rutinitas baru.
Awalnya ingin jadi ibu rumah tangga, tapi apa jadinya bila ternyata kesibukan bisnis kelak membuat kita seperti bekerja kantoran dulu? Justru itu bagus, kesibukan kita mungkin hampir tidak ada bedanya dengan saat bekerja dulu tapi lihat sisi baiknya di masa depan.
Bila perjalanan bisnis ini sudah mampu berdiri dengan tegap, nantinya kita bisa mulai meng-hire orang untuk bekerja dan melanjutkan hal-hal yang kita anggap sudah bisa dikerjakan oleh orang lain.
In the end, pilihan menjadi ibu rumah tangga untuk berbisnis, adalah menghasilkan uang sendiri tanpa terikat jam kerja kantor. Segala sesuatunya kan tidak ada yang dimulai dengan leha-leha. Hasil kerja keras jadi ibu rumah tangga yang punya usaha, itu lebih menyenangkan daripada bekerja di tempat orang lain sebagai pegawai.


10.
Yakin 110%.
Gimana pun ceritanya bisnis kita, kalau pengalaman saya pribadi semuanya harus dilandasi sama keyakinan. Jalan berbisnis itu susaaaaaahhhhh banget, rintangan dimana-mana, tapi saya mikir kalau brand ini kita bawa dengan keyakinan, ujung-ujungnya selalu berbuah percaya diri. Namanya juga bisnis, kebayang kan saingannya banyak banget, belum lagi kalau berhadapan sama yang lebih senior bisnisnya, disitu biasanya nyali jadi menciut, makanya perlu yakin supaya percaya diri kita tetep bisa terjaga.


Nah pilihan jadi ibu rumah tangga ternyata cukup panjang ya, siapa bilang ibu RT bisanya nonton TV doang, kalau kata saya, menjadi ibu rumah tangga itu sebuah kesempatan mengasah bakat kita yang sesungguhnya. Mungkin saya memang suka desain, dan sekolah desain, tapi masa iya seumur hidup saya maunya ngedesain buat orang lain aja alias perusahaan orang. Sama dengan bisnis, coba pilih mana; bisa mempekerjakan orang lain atau bekerja untuk orang lain?

Gudluck yah para ibu rumah tangga diluar sana. Mulai dari hal kecil saja, jangan terlalu terburu-buru tergiur dengan kesempatan besar. Begitu pun mempersiapkan soal keuangan anak, jangan takut kebutuhan dia nanti ga cukup, pelan-pelan aja nabungnya, mungkin ada juga yang pilih investasi reksadana, well kalau saya lebih suka memanfaatkan bakat yang kita punya untuk jadi bisnis. Prosesnya juga lama, tapi demi masa depan anak, kita berjalan pelan tapi pasti.

"Rejeki masing-masing individu itu sudah diatur, tapi tetep aja usaha kita yang menentukan".

Bisnis kecil saya, suami dan partner kami :
- Casa Elana (clothing line, at FX Sudirman Jakarta - Mazee 6th Floor, Happy Go Lucky Bandung, Kavi Indonesia Bandung & www.hijup.com).
- Corner Cell (cellphone & gadget store, at ITC Ambassador 3rd Floor).
- Freelance Design House.

Modal : dimulai dengan sangat minim, dibangun sedikit-sedikit berharap jadi bukit.
Hasil : sudah melebihi gaji sebagai pegawai kantoran sebelum resign. Tidak signifikan tapi berjalan perlahan. Perbedaan bisnis adalah, pendapatan mungkin lebih besar dari gaji dulu, tapi perputaran uangnya lebih banyak, secara bisnis itu duitnya kudu muter terus.

Berani mencoba? Coba deh, ga ada salahnya kok :)