ASI atau Air Susu Ibu adalah sesuatu yang banyak merubah gaya hidup dan persepsi saya. Sebelum jadi ibu dan berkenalan dengan ASI, dimana jauh sebelum saya nikah, yang saya tahu kalau bayi menyusui ya dikasih susu. Tidak tahu apa yang membedakan ASI dengan susu fomula dari sapi (sufor). Saya pun tumbuh di lingkungan yang sebagian besar memberikan susu formula kepada bayinya. Termasuk orang tua saya sendiri, yang memang tidak ASI Eksklusif 6 bulan, dan langsung campur sufor.

Oke sampai disitu ilmu saya tentang ASI hingga tiba saatnya saya hamil dan banyak membaca artikel maupun forum, serta follow akun seperti @aimi_asi dan @ID_AyahASI untuk para ayah yang mau ngedukung istrinya ASI. Dari semenjak itu terbukalah mata saya terhadap pentingnya seorang ibu untuk WAJIB memberikan ASI eksklusif. Kenapa harus ASI? Wah banyak banget keuntungannya, dan kenapa jangan susu formula? Nah itu bisa di googling sendiri di internet sampai kita akan bisa melihat betapa kurang baiknya memberikan susu formula untuk bayi. Selama ini terlalu banyak konsumen yang terkena kibulan produsen susu dengan kandungan yang dijual di dalam susu formula.

Saya ga akan cerita tentang apa manfaat ASI karena bisa dicari sendiri ilmunya dan terlalu panjang untuk dibahas (lagi pula ASI adalah susu terbaik yang dikaruniai Tuhan, jadi jangan pernah samakan kehebatannya dengan susu formula). Disini saya akan cerita betapa ASI itu sungguh bergengsi dikalangan ibu masa kini.

Seorang ibu yang memutuskan untuk ASI eksklusif setidaknya membutuhkan 50% lingkungannya untuk mendukung. Hari gini masih banyak loh orang yang ngebangga-banggain anaknya sehat karena susu formula, padahal anak susu formula hampir sebagian besar overweight dan mudah alergi (googling sendiri ya untuk cari tahu). Nah statement anak gendut inilah yang suka dipersepsikan jadi anak sehat, padahal SALAH BESAR. Ujung-ujungnya kalau sang ibu kurang informasi dan belajar, bisa jadi malah ikutan ngasih sufor.

Jadi ketika kita memutuskan untuk ASI, pastikan mental kita udah kuat dan lingkungan mau membantu. Beruntung ibu saya sekarang pro ASI dan sangat ngebantuin saya ngajarin Lola minum ASI Perah (akhirnya Lola berhasil juga minum ASIP di umur udah mau 5 bulan ini), juga semua teman saya adalah pejuang-pejuang ASI, dan akan melakukan apapun demi memberikan anaknya asupan ASI. Bisa dibilang merekalah satpam ASI yang saling mengawasi satu sama lain. Nah setelah ditilik lagi, saya menyadari sekarang hampir semua yang saya kenal pro ASI dan malah ada statement yang mengesankan kalau ibu ASI itu keren!

ASI itu lebih bergengsi. Kalau para ibu yang banyak baca dan aktif di social media, pasti akan turut bangga telah menjadi bagian dari ibu yang pro ASI. Kini kencenderungannya bukan hanya karena ASI itu sangat bagus manfaatnya tapi lebih kepada gaya hidup sehat serta betapa hebatnya mereka para ibu atas waktu yang diluangkan untuk memberikan ASI. Working mom dengan alat tempur pompanya agar bisa memberikan ASI perah kepada anaknya, dan full time mom yang selalu siap sedia menyodorkan ASI dan menemani menyusui untuk anak kapan saja. Lagi pula ASI itu gratis, ngapain ngeluarin uang jutaan perbulan cuma untuk susu formula, mending ditabung untuk dana pendidikan toh.

Saya yang baru jadi ibu, melihat situasi ASI yang sekarang kembali booming ini sebagai sesuatu yang menenangkan. Selain dukungan yang bertebaran, juga informasi yang disediakan oleh berbagai pihak tentang baiknya ASI semakin menjamur. Rasanya semakin percaya diri bisa lulus ASI S1 (sampai 6 bulan), Insya Allah sampai S2 (1 tahun), apalagi bisa sampai S3 (2 tahun), keren banget deh kalau bisa tercapai.

Hadangan dan tantangan untuk ibu yang ASI juga banyak loh meski udah bermental baja, karena ada aja yang bilang kalau anak kita kurang asupannya makanya mesti ditambah sufor, nah kalau kayak gini nih, cukup jawab, "Pasti ga banyak baca ya, asupan gizi dalam ASI adalah yang terbaik mengalahkan merk susu formula semahal apapun". Tantangan lain juga bisa berupa perbandingan anak ASI dengan anak sufor yang gendut. Lagi-lagi gendut bukan patokan sehat, apalagi overweight. Wah kalau uda jadi ibu pasti bisa ngerasaain deh betapa gempuran susu formula itu kadang bisa bikin panas kuping.

In the end, saya nulis ini cuma mau mengucapkan selamat kepada para ibu yang pro ASI. ANDA ADALAH IBU PALING KEREN. Dan saya ga mengecilkan hati untuk ibu yang kasih susu formula, karena itu adalah pilihan pribadi. Cuma mungkin bisa mulai dicari infonya kalau memang mau full kasih ASI lagi dan stop susu formulanya. Percayalah Tuhan sudah memberikan yang paling bagus untuk umat-Nya, kenapa harus cari yang KW, hehe. Oh ya, banyak yang bilang dari lahir katanya ASI-nya ga keluar, kesalahan terjadi karena tidak dirangsang, sebaiknya bertemu konselor laktasi, jangan malah langsung dicucurin susu formula. Kan ada yang namanya relaktasi, bagi para ibu yang ASI-nya terasa mulai seret.

Semoga di 2012 ini semakin banyak para ibu yang lebih mengerti betapa pro ASI sudah mengalahkan gengsi susu formula yang mahal itu. Seriously bu, kita keburu tumbuh besar dalam lingkungan yang percaya kalau susu sapi itu baik untuk bayi padahal tidak. Jadi ga bakalan langsung percaya kalau susu formula itu kurang baik.

Sekian dan maaf yah kalau ada sedikit kata yang menyinggung, karena tulisan ini dibuat murni sebagai pengalaman saya dan semoga bisa menginspirasi para calon ibu untuk bisa pro ASI. Yes you can. Untuk anak pasti mau ngasih yang alamiah, paling sehat dan terbaik kan :)