Tergelitik untuk menulis tentang pengalaman pribadi, udah lama aja ga cerita tentang personal opinion. Semoga tulisan saya kali ini ga bikin males dibaca hehe, karena bakalan panjang dan bertele-tele. Ingin bercerita tentang apa artinya usaha, support dan keyakinan.

Saya hidup dengan orang tua yang sangat keras dalam hal keuangan. Bisa dibilang mereka tipikal yang sangat perhitungan dan ga akan ngasih uang jajan lebih meski itu cuma Rp. 50.000, padahal saya tahu mereka mampu memberi lebih dari itu. Uang jajan saya waktu kuliah dulu di 2002-2006 itu Rp. 600.000 diluar uang urusan biaya perkuliahan. Untung kuliah di ITB jadi gaya hidup irit di lingkungan saya kental sekali, kebanyakan mahasiswa dari daerah dan beasiswa. Hidup dengan uang segitu sebulan, ga bisa untuk pergi ke mall berkali-kali, shopping tiap minggu atau sekedar ngopi cantik, tapi ya untuk sesekali masih bisa lah. Meski disisi lain orang tua sanggup membelikan mobil baru untuk kuliah, tapi tidak mempengaruhi financial saya. Hidup irit is a must, titik ga pake koma. Mikirin muterin duit yang ngepas cuma buat makan sehari-hari dan bensin itu sulit. Karena pasti pengen jajan yang lucu-lucu atau ikut temen ngumpul di mall. Jadi yang namanya nabung uang receh Rp 1.000 itu beneran dilakuin demi menjaga stabilitas keuangan.

Akhirnya saya memulai perjalanan karier di usia 21 saat baru lulus kuliah. Sempet nerima job-job freelance buat nambahin uang saku, tapi jarang karena ga ada banyak waktu. Alhamdulillah begitu lulus langsung dapet kerja, dan sejak itu saya sama sekali ga dikasih uang jajan lagi sama orang tua. Padahal di 2006 gaji saya cuma Rp 1,2 juta dari sebuah advertising agency dan harus cukup untuk satu bulan hidup di Jakarta yang serba mahal ini, meski tinggal masih dengan orang tua.

Uang gaji Rp 1,2 sebulan dan hidup dengan lingkungan pertemanan yang kerjanya pada makan enak di resto, nongkrong ngopi, belanja ke mall, itu beraaaaattttt. Harus kuat tutup mata dan jaga hati. Singkat kata perjalanan karier kantoran saya dimulai, disitulah saya belajar yang namanya cari uang betul-betul berusaha sepenuh hati. Akhirnya pindah kerja di TV swasta dan gaji yang jauh lebih baik bahkan jadi sangat baik menurut saya, meski prosesnya panjang banget, 4 tahun.

Tibalah waktunya saya menikah, saking orang tua saya mendidik keras soal uang, akhirnya saya jadi punya peran yaitu menyumbang dana pernikahan. Katanya menikah kewajiban orang tua, tapi menurut mereka menikah ga perlu mewah apalagi pamer. Jadilah kembali lagi pada saya dengan konsep yang uda dipersiapin yang akhirnya butuh dana lebih. Mobil saya pun dijual saking pengen berusaha mandiri tapi uang pribadi ga cukup. Pokoknya cari tambahan sidejob deh buat ngumpulin uang nikah. Hasilnya ya pernikahan saya sederhana aja tapi isinya ada jernih payah saya dan suami, oh ya uang angpao kami pun diberikan kepada orang tua.

Jadi ketika hidup pernikahan kami dimulai, semua berawal dari nol. Karena uangnya habis buat dana resepsi. Memulai sesuatu bersama itu rasanya luar biasa. Kita nabung sedikit demi sedikit dan akhirnya kerja keras kita mulai menunjukan hasilnya. Kata orang menikah itu ada rejekinya sendiri, apalagi punya anak rejekinya bertambah. Prinsip ini beneran saya pegang banget. Intinya ya kalau menikah rejekinya nambah, karena semangat untuk cari uangnya juga otomatis nambah kan kalau ada pasangan.

Saya dan suami lahir dari keluarga yang bukan siapa-siapa, hidup berkecukupan tapi tidak juga berlebihan. Kami hanya orang biasa aja. Seiring waktu berjalan saya ngerasa, akhirnya usaha yang saya jalankan mulai keliatan hasilnya. Ga gampang yang namanya usaha dari dunia maya. Ya semua berawal dari blogging terus lanjut ke usaha offline. Saya harus bergadang tiap malam ngeditin foto, belajar otodidak bikin website sampai sibuk motret tanpa bayaran demi latihan fotografi. Membangun image Fifi Alvianto pake passion tapi sebenernya berat prosesnya.

Alhamdulillah menginjak usia pernikahan 2 tahun lebih, kita akhirnya bisa beli rumah meski KPR (huhu terharuuuu). Beneran dari tabungan nol rupiah kita ngumpulin uangnya plus modal nekat. Bantuan orang tua saya pun ga ada sama sekali, jadilah murni atas usaha sendiri. Bangga pastinya bisa mewujudkan mimpi, beli rumah town house pake hasil keringet dan bau badan. Kalo dipikir lagi, usaha saya sampai saat ini ga lain diawali karena blogging. Rejeki saya dari situ. Apalah jadinya semua pekerjaan saya kalo ga bisa fotografi, web design dan maintain followers Twitter atau pembaca blog. Walaupun tetep suami lebih punya peranan penting sebagai pencari nafkah.

Kesimpulannya, saya saat ini hidup pake perasan keringet sendiri. Ga dibantuin orang tua, tapi peran mereka untuk bikin saya mandiri itu luar biasa sekali. Ditambah dukungan suami yang sangat besar, selalu mendukung semua kegiatan saya, meski kadang harus selisih pendapat. I'm nothing without his support. Ga ada artinya hidup saya sekarang kalau bukan karena suami yang pengertiannya luar biasa, secara orang tua saya sudah menyerahkan saya kepada suami sebagai pembimbing hidup, ya cuma sama suami saya minta ijin ini itu termasuk ijin bekerja. Dan cuma sama dia, saya belajar tentang usaha, karena saya bukan istri yang tinggal minta duit ke suami, saya istri yang sanggup hidup susah dengan suami.

Terharu kalau dipikir lagi tentang hidup ini, semuanya ga ada yang mudah tapi semuanya bisa diraih lewat hasil belajar dari pengalaman bertahun-tahun, dan yakin sama kemampuan diri sendiri. Hidup tanpa fasilitas bikin saya jadi semangat pengen bisa mewujudkan keinginan dan makin antusias.

Terima kasih suami yang selalu jadi inspirasi saya untuk terus berkarya. Yang selalu yakin kalau istrinya special. Happy Anniversary. Minggu ini kita 3 tahun menikah, susahnya hidup uda pernah dialami, tapi perjalanan masih panjang, kalau ada yang lebih sulit kita harus makin solid.

XOXO
*your wife and baby Lola